Senin, Maret 16, 2009

Sukses: Hak, Tanggungjawab

nnn

Teman-teman remaja yang saya tanya, "Setujukah sukses itu adalah hak kita?", menjawab serentak, "Setujuuuu!" sambil berteriak semangat a la peserta militan seminar motivasi. Wah, kalau sudah bicara "hak", serta merta emosi ini dipenuhi dengan kobaran api pembakar logika bahwa kalau kita tidak sukses, berarti telah terjadi perampasan hak. Sehingga orang didorong sedemikian rupa untuk mengejarnya! Kompleksnya persoalan sukses itu dipersempit ke dalam persoalan "hak" semata.

Padahal, nggak usah bicara hak, kita ini sebenarnya sudah diperlengkapi dengan perangkat (untuk) sukses ketika kita ini dilahirkan. Pencipta kita jauh lebih kreatif dari
Mark Zuckerberg yang bikin facebook sedemikian suksesnya! Bayangkan, kalau facebook yang tak bernyawa itu saja bisa sedemikan sukses karena features-nya, lha kita ini kan manusia yang sedemikian rupa default feature-nya memang untuk berhasil. Seluruh organ dan "perangkat lunak" yang kita miliki tidak ada yang didesain agar kita gagal dalam hidup. Perkara ada beberapa fungsi yang kemudian ketahuan malfunction, itu bukan karena by purpose tetapi karena kegagalan fungsi semata.

Dengan demikian, alternatif pemahaman yang bisa disodorkan adalah bahwa kesusksesan itu sesungguhnya lebih merupakan sebuah pertanggungjawaban terhadap maksud dan tujuan Sang Pencipta --dalam menghadirkan kita di alam raya ini. Kalau kita memahaminya sukses sebagai tanggungjawab, dan kalau kita memang manusia yang bertanggungjawab, pastilah setiap pagi, ketika kita membuka kelopak mata untuk hari yang baru, kita sudah dengan sadar bahwa keberhasilan menjadi tema utama hari-hari kita.

Jadi kalau
Andre Wongso memilih slogan "Success is my right!" injinkan saya menyarankan untuk menggantinya menjadi "Success is my responsibility!".

Selamat pagi dan selamat bekerja! g